
Apa yang Paling Sering Bikin Cleanroom Jadi Kotor? Ini Penyebab Utamanya!
Cleanroom dikenal sebagai ruangan “super bersih” yang dipakai untuk proses produksi yang sensitif—mulai dari farmasi, alat kesehatan, kosmetik, hingga elektronik presisi. Tapi kenyataannya, banyak cleanroom yang sudah dibangun mahal-mahal tetap mengalami masalah:
- ruangan cepat berdebu
- hasil particle count naik turun
- produk sering reject
- audit ISO/GMP bikin deg-degan
Lalu pertanyaannya:
Apa yang paling sering bikin cleanroom jadi kotor?
Jawabannya bukan hanya “kurang dibersihkan”. Cleanroom itu bukan sekadar ruangan yang dipel, tapi sistem yang harus berjalan sempurna: airflow, tekanan, filtrasi, material, dan SOP manusia.
Di artikel ini, kita akan bahas sumber kontaminasi paling umum yang sering bikin cleanroom jadi kotor, lengkap dengan cara pencegahannya.
Cleanroom Itu Bisa “Kotor” Walaupun Kelihatan Bersih
Banyak orang menilai kebersihan dari visual:
- lantai mengkilap
- dinding putih
- ruangan rapi
Padahal cleanroom dinilai dari:
- jumlah partikel di udara (particle count)
- kontaminasi mikroba
- kontaminasi silang antar area
- kestabilan tekanan dan airflow
Artinya, cleanroom bisa terlihat bersih, tapi tetap gagal standar ISO 14644 karena partikel tidak terlihat oleh mata.
Penyebab Cleanroom Kotor yang Paling Sering Terjadi
Berikut ini daftar penyebab paling umum (dan paling sering terjadi di lapangan) yang membuat cleanroom jadi kotor.
1) Manusia (Operator) = Sumber Kontaminasi Nomor 1
Ini fakta yang sering tidak disadari:
manusia adalah “mesin penghasil partikel” terbesar di cleanroom.
Setiap orang menghasilkan:
- serpihan kulit mati
- rambut halus
- mikroorganisme dari kulit
- serat dari pakaian
- debu dari sepatu
Bahkan saat diam pun manusia tetap melepaskan partikel. Saat bergerak, jumlah partikel bisa meningkat drastis.
Contoh kesalahan yang sering terjadi:
- operator sering keluar-masuk
- tidak mengikuti SOP gowning
- membuka masker di dalam
- sarung tangan tidak diganti
- membawa HP tanpa prosedur
Solusi:
- disiplin SOP masuk cleanroom
- training rutin
- kontrol akses dan alur orang
- penggunaan air shower sebelum masuk
Internal link: Kenapa harus lewat air shower sebelum masuk?
2) Pintu Cleanroom Tidak Rapat (Bocor)
Pintu cleanroom yang tidak rapat dapat menyebabkan:
- kebocoran tekanan (positive pressure drop)
- udara luar masuk membawa debu
- airflow jadi kacau
Pintu yang “sedikit renggang” saja bisa menjadi jalur masuk partikel terus-menerus.
Tanda-tanda pintu bocor:
- pressure indicator sering turun
- pintu terasa terlalu mudah dibuka
- ada celah terlihat di frame
- debu sering muncul di dekat pintu
Solusi:
- gunakan pintu cleanroom dengan sealing/gasket
- perbaiki frame dan engsel
- pasang interlock untuk area kritikal
Internal link: Kenapa pintu cleanroom harus rapat banget?
3) Airflow dan HVAC Tidak Sesuai Desain Cleanroom
Ini penyebab besar yang sering terjadi pada cleanroom yang “dibangun seperti ruangan biasa”.
Cleanroom harus punya:
- supply air bersih dari HEPA/FFU
- return air terkontrol
- tekanan ruangan stabil
- ACH sesuai kebutuhan ISO class
Jika airflow salah:
- partikel berputar-putar
- kontaminasi tidak terdorong keluar
- ruangan terasa bersih tapi particle count tinggi
Kesalahan desain airflow yang umum:
- return grille dipasang di atas (padahal idealnya di bawah)
- supply kurang merata
- ducting bocor
- balancing airflow tidak dilakukan
Solusi:
- evaluasi desain HVAC cleanroom
- lakukan air balancing
- commissioning dan pengujian berkala
Internal link: Udara di cleanroom itu masuk dari mana dan keluarnya ke mana?
4) HEPA Filter Kotor atau Bocor (Leak)
HEPA filter adalah “jantung” cleanroom. Tapi HEPA juga bisa:
- tersumbat karena debu
- bocor pada seal
- rusak karena pemasangan tidak presisi
Jika HEPA bermasalah:
- udara yang masuk tidak lagi bersih
- partikel langsung masuk ke area produksi
Tanda HEPA bermasalah:
- tekanan diferensial filter tinggi
- airflow menurun
- particle count naik terus
Solusi:
- jadwal penggantian filter yang jelas
- uji DOP/PAO (integrity test)
- pastikan housing HEPA rapat
5) Material Ruangan Tidak “Cleanroom Friendly”
Ada ruangan yang disebut cleanroom, tapi materialnya:
- dinding cat biasa yang mudah mengelupas
- lantai kasar dan menyimpan debu
- sambungan panel tidak rapat
- sudut ruangan tajam (debu menumpuk)
Cleanroom seharusnya memakai:
- panel cleanroom khusus
- flooring yang mudah dibersihkan
- joint sealant rapi
- desain sudut cove (melengkung) agar tidak menumpuk kotoran
Solusi:
- gunakan material cleanroom yang sesuai standar
- lakukan sealing ulang bila ada celah panel
6) SOP Cleaning Lemah / Tidak Konsisten
Cleanroom perlu SOP cleaning yang detail:
- jadwal harian/mingguan/bulanan
- metode wiping yang benar
- chemical yang sesuai
- urutan pembersihan dari area paling bersih ke paling kotor
Kesalahan umum:
- lap dipakai berulang tanpa prosedur
- chemical tidak sesuai (meninggalkan residu)
- cleaning hanya lantai, tidak dinding/plafon
- tidak ada checklist
Solusi:
- buat SOP cleaning yang jelas
- training petugas cleaning
- audit internal berkala
7) Barang Masuk Tanpa Prosedur (Material Flow Buruk)
Kontaminasi tidak hanya datang dari manusia, tapi juga dari barang:
- karton dari gudang
- palet kayu
- plastik packing
- alat kerja berdebu
Jika barang masuk tanpa prosedur:
- partikel “ikut masuk”
- ruangan cepat kotor
Solusi:
- gunakan pass box
- gunakan ruang staging/transisi
- SOP wiping barang sebelum masuk
8) Tidak Ada Zoning yang Jelas
Cleanroom yang baik memiliki zoning:
- area umum
- gowning room
- air shower
- cleanroom utama
- critical zone
Jika zoning kacau:
- orang bebas keluar masuk
- kontaminasi silang tinggi
- airflow pressure cascade tidak berfungsi
Solusi:
- desain zoning dan layout sejak awal
- pasang signage SOP
- kontrol akses pintu
Dampak Cleanroom Kotor terhadap Produksi
Cleanroom yang kotor akan berdampak besar, seperti:
1) Produk Reject Meningkat
Karena kontaminasi partikel atau mikroba.
2) Biaya Produksi Membengkak
- rework
- downtime
- cleaning berulang
3) Audit ISO/GMP Berisiko Gagal
Karena data particle count tidak stabil.
4) Kepercayaan Customer Turun
Terutama jika produk untuk medis atau farmasi.
Cara Menjaga Cleanroom Tetap Bersih dan Stabil
Ringkasnya, cleanroom harus dijaga lewat 4 pilar:
1) Kontrol Manusia
- SOP gowning
- air shower
- pembatasan jumlah orang
2) Kontrol Udara
- HEPA filter
- HVAC balancing
- ACH sesuai standar
3) Kontrol Material
- pass box
- wiping procedure
4) Kontrol Proses
- SOP cleaning
- monitoring particle count & pressure
PT. Rajasa Wirastika Sejahtera sebagai Penyedia Jasa Cleanroom
Banyak cleanroom menjadi cepat kotor bukan karena kurang dibersihkan, tetapi karena sejak awal:
- desain airflow kurang tepat
- pintu/panel tidak kedap
- zoning tidak jelas
- sistem HVAC tidak terintegrasi
Karena itu, membangun cleanroom sebaiknya ditangani oleh tim yang paham standar dan teknisnya.
PT. Rajasa Wirastika Sejahtera sebagai penyedia jasa cleanroom dapat membantu mulai dari:
- konsultasi kebutuhan ISO class
- desain layout dan zoning
- instalasi panel cleanroom
- sistem HVAC cleanroom (AHU, ducting, HEPA)
- pemasangan air shower, pass box, interlock
- commissioning & pengujian performa
Dengan sistem yang dirancang benar, cleanroom akan lebih stabil, mudah dijaga kebersihannya, dan mendukung kualitas produk jangka panjang.
Kesimpulan
Jadi, apa yang paling sering bikin cleanroom jadi kotor?
Jawaban paling sering adalah:
- manusia (operator)
- pintu bocor
- airflow/HVAC tidak sesuai
- HEPA filter bermasalah
- material ruangan tidak tepat
- SOP cleaning tidak konsisten
- barang masuk tanpa prosedur
- zoning buruk
Cleanroom yang baik bukan hanya “ruangan bersih”, tapi sistem yang menjaga kebersihan secara konsisten setiap hari.
